En annen stoffet for å bekjempe impotens, for som det er etterspørsel, er Levitra Kjøp Priligy Uten Resept Stoffet er med høy effektivitet, noe som er bekreftet i flere kliniske studier kjøpe Generisk Viagra Den aktive ingrediensen i Levitra vardenafil fungerer.

Archive for May 4th, 2009

Ungu LorengBeberapa hari yang lalu saya baru kembali dari Singapore, pusat belanja turis dari Indonesia. Kunjungan saya kali ini kesana sudah lama direncanakan. Tiket Air Asia-pp sudah saya beli sejak November 2008. Saya sudah ancang-ancang untuk keluar dari rutinitas sehari-hari minimal 6 bulan sekali. Maklum, raga ini perlu istirahat agar setiap organ didalam tubuh saya berdurasi lama alias long lasting.

Sesampai di Changi Airport, saya berubah pikiran. karena saya mulai menghitung harga-harga di Singapore dan membandingkannya dengan harga counterpartnya di Malaysia. Belum lagi mengingat kurs rupiah ke dollar Singapore dan membandingkannya dengan kurs rupiah ke Ringgit.

Alhasil, dari bandara Changi saya naik taxi ke  Bugis Street, dimana tersedia banyak bus tujuan Johor Bahru. Dengan ongkos 2,4 dollar Sing dan ditempuh dalam kurang dari satu jam, sampailah saya di Johor Bahru yang disingkat dengan JB.

JB tampak cantik dengan gedung-gedung modern, dan terletak ditepi pantai yang indah. Perbatasan Singapore dan JB adalah Woodland, tempat imigrasi bila memasuki wilayah Singapore. Sedangkan Bandar Sultan Iskandar adalah imigrasi saat memasuki wilayah Malaysia di JB.

Sedikit repot dengan mengisi formulir saat memasuki satu negara, seperti yang saya rasakan saat bepergian dari Hongkong ke Shenzen diwaktu yang lalu. Di Shenzen malahan semua pendatang baru diharuskan untuk diambil potret wajah layaknya pasfoto. Mungkin sebagai antisipasi terhadap terroris yang ditakuti memasuki China.

Makanan di JB yang terbaik menurut saya adalah Nasi Briyani dengan kare ayam. Harganya 9 ringgit, plus teh tarik 2 ringgit. Dengan 11 ringgit alias 33 ribu rupiah terasa makan siang itu sangat memuaskan.

Bandingkan dengan harga makanan di Singapore. Saya mencari makanan yang agak berselera Indonesia di jalan Pisang, berdekatan dengan Arab Street di Singapore. Tahu goreng telur yang dibuat bentuknya tinggi, seperti tumpeng dan nasi putih harganya 6 dollar Singapore atau sama dengan 45 ribu rupiah. Ada pepes ikan, pisang goreng, dst semuanya makanan khas Indonesia yang diolah secara modern.

Pemilik restoran adalah seorang hajjah, warga Singapore. Restoran ini ternyata begitu populer diantara penduduk muslim di Singapore. Tak henti-hentinya penumpang yang naik dan turun kendaraan dijalan Pisang yang relatif sempit dan tidak seberapa panjang yang tampak tegak lurus dengan Victoria Street.

Diseberang jalan Pisang tampak toko-toko yang menjual ikan asin, kacang-kacangan, kerupuk mentah dan semua jenis makanan kering lainnya. Dari pengamatan saya, para penjual disekitar situ airmukanya tampak tidak ceria, tidak happy dan terkesan flat seperti menghadapi masa suram. Tidak sekalipun saya melihat orang disana yang tersenyum. Semuanya  bermuka murung, tampak letih..

Sampailah saya di sepanjang Orhard Road, disini masih banyak orang asing yang berseliweran dari berbagai negara : Australia, Eropa dan Amerika. Sebagian adalah expatriat yang bekerja di Singapore. Disekitar Orchard Road ini kondisi ekonomi yang mengalami resesi tidak begitu tampak dari air muka orang-orang yang berlalu-lalang. Akan tetapi toko-toko meskipun banyak orang yang masuk, kebanyakan hanya melihat-lihat, tanpa membeli barang.  Business terlihat sepi..

Pada satu pertokoan Lucky Plaza yang terletak berdekatan dengan Mount Elizabeth Hospital, ada keadaan baru yang belum saya lihat sekitar satu tahun yang lalu yaitu toko-toko dikelola oleh orang-orang Filipina dengan bahasa tagalog-nya. Mereka bukan sebagai pekerja, akan tetapi pengelola bisnis.

Satu kemajuan besar bagi bangsa Filipina yang bisa ber-expansi bisnis sampai ke Singapore. Mereka bukan lagi tenaga kerja yang mengandalkan tenaganya saja. Akan tetapi saat ini mereka sudah punya modal dan menjadi pemilik atau pengelola satu kegiatan bisnis di areal terpandang di Singapore. Kapan kita bisa seperti itu ?

Popularity: unranked

1 Comment | Category: Bahasa, Traveling

  • About

    Dr. Sukma Merati, DSPADr. Sukma Merati is founder and owner of Riau Pathology Center in Pekanbaru, Riau. Dr. Merati has had various international experience and training, including as a fellow doctor at The Mount Sinai Hospital in New York City, NY, USA (2000-2002). More >

  • Calendar

    May 2009
    M T W T F S S
    « Mar   Jun »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

    Archives By Month

    Backend

    Subscribe