UNCLE HONotredameREX HOTELHo Chi Minh City (HCMC) sedang bergembira dan merupakan satu lokasi yang dipilih banyak perusahaan disaat resesi global saat ini untuk relokasi pabrik-pabriknya. Saya melihat banyak baju-baju/garment yang tadinya dibuat di Indonesia dialihkan ke negara antara lain Viet Nam, karena beaya produksi bisa ditekan sampai 30-40 % dibandingkan bila diproduksi di negara sebelumnya.

Pada saat saya berkunjung ke Johor Bahru bulan April tahun ini, terdapat toko khusus disana yang berlogo “Outlet Factory’ atau OF yang menjual baju-baju, celana dan jacket jeans, topi serta garment pada umumnya dengan harga sangat ‘miring’. Lebih murah dari OF yang banyak bertebaran dikota Bandung. Saat diamati garment tersebut bertuliskan ‘made in Viet Nam’.

Saya dengar pula banyak perusahaan automotive Korea dan Jepang memindahkan pabriknya ke Viet Nam dengan alasan menekan beaya produksi. Seperti mobil Hyundai dan Toyota yang  outsourcing di HCMC dan Viet Nam pada umumnya termasuk Hanoi diujung utara. Harga-harga barang konsumsi, elektronik, makanan, transportasi dan hotel boleh dikatakan reasonable alias mufakat dibandingkan Indonesia dan negara-negara lain didunia.

Tenaga kerja di Viet Nam boleh dikatakan lebih murah atau bahkan termurah di Asia Tenggara. Anak muda Viet Nam berpikiran maju dan sudah melupakan perang yang berkecamuk dinegerinya selama 20 tahun. Tidak ada anti Amerika dan lain-lain, baik dalam kata maupun tulisan. Mereka sangat menikmati budaya dan life style global serta kelihatan mulai bekerja keras membangun negaranya yang tertinggal agak jauh dari negara tetangganya di Asia Tenggara.

Tidak mengherankan pada saat rush hour kita dapat melihat jutaan pekerja pabrik yang pergi dan pulang kerja dari pabrik  pabrik yang berada disekitar HCMC. Hampir semuanya menggunakan sepeda motor lengkap dengan helmet dikepalanya. Maka tidak berlebihan kalau  HCMC disebut sebagai kota dengan jutaan sepeda motor.

Banyaknya guest house dan homestay di HCMC, mengingatkan saya akan Kuta Beach di Bali sekitar tahun 80-an.  Penduduk lokal sangat akrab dengan tamunya dari manca negara. Beberapa anak remaja laki Viet Nam kini sudah ada yang menindik kuping dan memakai anting serta men’tattoo’ bagian tubuhnya terutama di lengan. Rambutpun sudah dicat warna-warni. Kebalikan dari Indonesia dimana penduduknya kebanyakan wanita, makaViet Nam penduduk laki-laki jauh lebih banyak dari pada wanitanya. Coffee shop kebanyakan dikunjungi para lelaki yang ingin mendapatkan pasangan wanitanya disana.

Cerianya masyarakat di HCMC persis seceria masyarakat di Kuta Bali sebelum terjadinya peristiwa Bom Bali 2002. Banyak cafe, restaurant, pub dan disco termasuk disepanjang Saigon River yang mulai hidup pada saat jam menunjukkan jam 20.00 alias jam delapan malam. Didepan atau seberang sungai banyak hotel mewah seperti Rex Hotel yang pernah dipakai lokasi shooting film Hollywood dengan bintang Robin Williams, ada Caravelle Hotel, ada Riverside Hotel yang menjulang tinggi lebih dari 30 lantai.

Persis didepan Rex Hotel tampak berdiri megah patung Ho Chi Minh yang menjadi landmark kota HCMC. Bangunan disekitar patung paman Ho hampir semuanya sangat indah dengan arsitektur ‘Renaissance’ seperti kebanyakan gedung di kota Paris. Warnanya putih-creamy yang tampak anggun dan mahal. Disekitar patung paman Ho dan Saigon river, boleh dianalogikan dengan daerah pantai Sanur di Bali yang notabene buat para turis yang berumur dan mapan dibidang ekonomi alias berkantong tebal.

Kebalikan dari lokasi Rex Hotel dengan patung uncle Ho, di HCMC terdapat  pasar grossier seperti pasar pagi atau Mangga Dua di Jakarta dimana membeli satuan juga boleh.  Pasar itu namanya BahnThrang, yang cukup luas dengan segala macam barang mulai dari makanan kering semacam keripik pisang, aneka-macam permen atau manisan mulai dari manisan jahe yang bertekstur tipis seperti kain kelambu berwarna kuning-muda dengan rasa ‘ginger’ yang kuat. Ada permen dari buah cherry warna merah menyala, ada kacang-kacangan siap dimakan seperi cashew nuts yang bersih dan besar-besar, sangat menambah tenaga disaat kaki sudah capek mengelilingi pasar Bahn Thrang.

Bahn Thrang juga penuh dengan komoditas fashion seperti : baju, tas berbagai merek terkenal, tas pesta maupun tas kerja, berbagai wallet/dompet pria dan wanita, parfum, sepatu dan aneka macam sandal. Berbagai macam bunga plastik dan  berbahan serat, kain dsb serta lukisan/paintings dari cat minyak, airbrush, dst untuk interior serta berbagai lampu hias ada disini. Kalau di Bangkok pasar seperti Bahn Thrang di HCMC sini adalah pasar Cha Tu Chack yang hanya buka setiap weekend dan berlokasi on the way ke Bandara international  Svarna Bumi, Thailand.

Saya sangat menikmati makanan Viet Nam terutama Pho sejenis mie kuah yang dicampur daging beef atau seafood dan dimakan dengan sumpit serta  spring roll atau lumpia khas Viet Nam dengan saus kacang yang lezat…

Popularity: unranked

Posted Tuesday, September 29th, 2009 at 12:39 pm
Filed Under Category: Bahasa, Traveling
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

  • About

    Dr. Sukma Merati, DSPADr. Sukma Merati is founder and owner of Riau Pathology Center in Pekanbaru, Riau. Dr. Merati has had various international experience and training, including as a fellow doctor at The Mount Sinai Hospital in New York City, NY, USA (2000-2002). More >

  • Most Popular Posts

  • Calendar

    March 2015
    M T W T F S S
    « Dec    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  

    Archives By Month

    Backend

    Subscribe