Jakarta Metropolitan, wajahmu kini yang Kusam. Inikah tanda-tanda Resesi telah tiba?
Posted on May 4, 2008
Filed Under Bahasa, Environment
Kemarin saya baru kembali dari Jakarta untuk satu urusan. Menjelajahi jalan-jalan ibukota selama dua hari, dari sudut pandang saya, memberi kesan yang negatif. Kenapa ? Saya jadi miris, melihat kondisi jalan, jembatan penyebrangan, halte bus, taman serta semua sarana umum terlihat tidak terawat. Semua kelihatan kusam, abu-abu, sendu, kotor dan memilukan…
Inikah Jakarta yang dahulu menjadi impian setiap orang daerah? Gemerlap dan cerianya suasana Jakarta di tahun 80-an, seolah sirna dengan meninggalkan sampah, puing dan rongsokan lain, tidak berbeda jauh dengan daerah lain dipelosok Indonesia. Perbedaan yang paling jelas yaitu adanya bangunan pencakar langit di Jakarta yang berdiri menjulang disana-sini, sedangkan sisanya tidak lebih baik dibandingkan kondisi daerah-daerah lain di Indonesia…
Saya merenung dan sedih, sedemikian terpurukkah ekonomi negara kita atau lebih tepatnya pemerintah DKI Jakarta, apakah kita telah memasuki era resesi, sehingga tidak ada anggaran untuk urusan kebersihan kota ? Atau mungkin pemerintah DKI kurang concern terhadap kebersihan dan keindahan kota, akibat seringnya banjir melanda ibukota ? Bagaimana jadinya bila ibukota negara yang seharusnya menjadi tolok ukur ditingkat nasional kondisinya seperti itu ?
Daerah Sudirman, Blok M, Kebayoran Baru, Senayan yang merupakan jalan protokol dan kawasan elit semestinya kelihatan bersih dan menarik, namun pada hari-hari saya telusuri kemarin kelihatan sebagai tempat kumuh. Banyak dedaunan dan sampah coklat-menghitam yang berserakan disana-sini, disamping pagar bangunan yang berkarat, tidak terurus.
Menyedihkan sekali, apalagi melihat wajah-wajah orang yang berlalu-lalang dikiri-kanan jalan yang tampak kusut, muram, tidak bersinar tanpa keceriaan samasekali pada raut wajah mereka. Sepertinya beban hidup mereka sangat berat, sedikitpun tidak terpancar optimisme di wajah mereka…
Bagaimana ini pak Fauzi ? Bukankah kebersihan dan keindahan Jakarta termasuk salah satu janji bapak saat kampanye pemilihan gubernur DKI Jaya? Saya yang penduduk Jakarta dan saat ini kebetulan bekerja di Pekanbaru merasa miris, sedih dan malu.
Dikota Pekanbaru yang jauh lebih kecil dibanding Jakarta, keadaannya berbalik 180 derajat. Yang namanya sampah, itu sulit ditemukan. Setiap jalan, fasilitas umum dan sudut-pelosok kota tampak begitu bersih dan asri. Tanaman di jalan protokol dirawat dengan baik, tampak sehat dan berkembang mekar warna-warni dengan daun-daun yang menghijau ‘royo-royo’.
Ditengah terik mataharipun masih bisa kita lihat para ‘pahlawan’ kebersihan melakukan tugasnya, baik laki-laki maupun perempuan. Dengan topi sebagai penahan panasnya sinar matahari, mereka bekerja dengan penuh tanggung jawab dan berwajah kemerahan, menikmati pekerjaan yang dilakukannya itu. Malam jam 22.00 pun masih bisa dijumpai satu dua petugas kebersihan sedang menyapu sisi jalanan Pekanbaru…
Sangat berbeda dengan rata-rata yang saya lihat kemarin di Jakarta. Tidak satupun tenaga kebersihan yang saya jumpai di sepanjang perjalanan itu. Saat itu sekitar jam sebelas siang, daerah Sudirman sepi dari petugas kebersihan, apakah sudah beres, lagi istirahat atau memang tidak ada petugas ? Dua pertanyaan pertama jawabnya pasti tidak, karena sampah masih berserakan untuk pertanyaan pertama, dan belum jam istirahat untuk pertanyaan kedua. Jadi yang paling sangat mungkin adalah tidak adanya petugas kebersihan… How come in such big city like Jakarta?
Saya pernah baca, gaji setiap petugas kebersihan di Pekanbaru 850 ribu rupiah per bulan, sesuai UMR di Riau. Rencananya upah itu akan dinaikkan, mengingat jasa mereka yang telah mengharumkan nama kota Pekanbaru sebagai kota terbersih di Indonesia dengan memperoleh Piala Adipura berkali-kali. Bagaimana kalau pak Fauzi Bowo selaku gubernur DKI Jaya-dengan tidak usah merasa malu- mengirimkan staffnya untuk studi banding masalah kebersihan kota, ke Pekanbaru?
Pemimpin yang baik dan bijaksana akan ‘legowo’ untuk belajar, meski kedaerah seperti provinsi Riau yang dianggap terkebelakang. Ayo, pak Foke kita tunggu action anda…
Popularity: 16%
Comments
17 Responses to “Jakarta Metropolitan, wajahmu kini yang Kusam. Inikah tanda-tanda Resesi telah tiba?”
Leave a Reply
good afternoon mam,
can you tell about the pathophysiology of chest pain? I can’t get the source. mam, please answer it in indonesian. hehe… thx
Hai Wawan,
Makasih telah berkunjung ke blog saya dan makasih juga atas pertanyaannya.
Langsung saja dijawab pertanyaan itu. Nyeri dada patofisiologinya sbb. : Nyeri diseb aktifasi nosiceptor somatik atau visceral, sbg respons atas kerusakan jaringan (kanker). Nyeri kronik(persisten) diseb. banyak hal. Aktifasi nosiceptor berulang dpt mensintesa jalur neural sampai stimulus rasa nyeri.Faktor psikologis( depresi dan cemas)akan memperpanjang dan memeperkuat rasa nyeri.Nyeri neuropatik lebih sering bersifat kronik,bukan nyeri akut.
Ada 3 jenis rasa nyeri: nosiceptif(sayatan, lebam, fraktur), neuropatik(disebabkan ggn saraf), dan psikogenik(ggn psikologis).
Penyakit dengan nyeri dada : TBC Paru, efusi pleura, pneumothorax,Ca Paru, Infark Paru
Demikian, smoga cukup jelas.
Denny, makanya kembalilah ke kampung halaman kita: bersih, aman dan sejuk. Pekanbaru juga pernah menjadi “kampung” halaman saya yang ke dua selama 16 tahun di “hutan” minyak.I miss it very much. The last time I visited it was early last year.
Kus, kembali ke kampung halaman yang mana? Kalau yang dimaksud Bali, belakangan ini saya cukup sering kesana… Terasa sekali berlibur, tanpa perlu memikirkan pekerjaan sehari-hari.
If you miss Pekanbaru, why don’t you come? It would be nice to see you in PKU.
Gak nyangka juga ya dok, kok ibukota jadi kayak gitu. jadi kurang minat juga mau ke sana… saya jadi bangga dengan kampung halaman saya…
Benar, Putra. Mungkin sebaiknya kita ‘back to nature’. Kembali ketempat asal kita, dimana para leluhur dilahirkan.
Tapi rasanya sulit juga menemukan sungai dengan air bening dimana saya bisa bercermin,seperti masa kecil saya dulu.. Sungai sekarang sudah butek, penuh dengan bahan kimia pollutant…
ass dok
dok terimakasih kuenya tdi
enak banget dok. mmmm
dok, wan gi nyari hematoma subungual dok
sedikit kali bahannya dok
ktanya dok patofisiologi hematoma itu sama aja semuanya, mau itu hematoma perikardium, hematoma subungual, karena itu tergantung letaknya dimana aja katanya dok.. kira2 bisa diterima dok?
Halo Wawan,
Kue itu namanya ‘muffin’, favorit saya sejak di Australia dulu, tahun 1999..Emang nggak salah kalo kamu suka.
Hematoma dimana2 sama saja. Terjadi karena pecahnya dinding pembuluh darah akibat trauma, dll maka sel-sel eritrosit dan komponen darah lain akan terkumpul dalam satu lokasi.Makin lama, makin membesar dan terutama akan sangat berbahaya bila di jaringan otak, karena akan menekan pusat2 vital disana.. Keep reading..
Met siang,dok..
Kerenz neh,dok..Blognya..!!!
Kami Lagi nyari tuGas tentang Physical overload & Osteomyelitis neh,dok…
Sebenarnya secara prinsip gmn,dok???
O’y,dok..
Koq Wawan aja yang dikasih kue???
Hikz..Hikz..
Mau juga,dok…
Huehehe…
Hai Merna & Jessieca,
Tumben berkunjungf ke blog saya. Anyway, makasih sudah berkunjung dan pertanyaannya.
Kalau yang dimaksud physical overload dan kaitannya dengan osteomyelitis maka jawaban saya kerja fisik yang berlebih mengakibatkan tulang bisa patah/fraktur. Patahan tulang membuat lubang kedalam jaringan lunak sekitarnya.
Terjadi infeksi, yang bila tidak dilakukan tindakan segera akan meluas masuk kedalam tulang dan berakibat osteitis sampai tulang nekrosis..
Akhirnya tampak involucrum, dst yang khas pada osteomyelitis pada pemeriksaan radiologi.
ass doc,
how’re u?
can u tell me what different acut, subacut and chronic osteomielitis?? n then, about fistula and abscess…
pusing banget dok,,,, bahannya mirip semua…
Wawan ketua kelas,
Osteomyelitis artinya radang pada tulang dan sumsum tulang. Ada 3 fase: akut, subakut dan khronik.
Pada setiap fase akan terjadi perubahan morfologik :akut-terbanyak sel leko-PMN, subakut radang khronik mulai muncul agak berimbang dg sel radang akut. Pada fase khronik, didominasi sel limfosit, sel plasma, makrofag, sel datia.
Fistula merupakan jalan keluar abses menuju keluar tulang. Terutama pada pasien anak dimana periost akan terangkat akibat perluasan infeksi, maka terjadi fistula.
Abses terjadi karena proliferasi bakteri yang merangsang reaksi inflamasi akut disertai kematian sel..
haiiii….dok…..
you’re so pretty…..
nice to know u…….
anyway….hw old r u??…..hv a husband yet???
i’m sorry…i juz wanna knw…..>_<
thanks doc…
cuman sebenarnya dok wan masih bingung
sebenarnya dari segi waktu berapa lama sih rentang akut, sub akut dan kronik?? khusus buat osteomielitis ini..
oh ya dok, dok kan udah jalan2 tu ke siak, kuansing dan sebagainya…
ntar kalau sempat sekalian juga dong dok ketempat wan di bangkinang… hehe
nanti wan akan ajak dokter berkeliling
Hi Kiky,
Thanks for your complimentary. I am so flaterred.
About age and husband, let me keep it for myself. Allow me to have my privacy, but thanks anyway for the questions..
Halo Wawan,
Langsung aja dijawab, ya. Kriteria akut s/d. 2 minggu, sub-akut 2-6 minggu dan bila lebih dari 6 minggu disebut khronis, Ok.
Nanti kalo ada pertanyaan lagi, pls do it in the other artricle. Artikel ini sudah overloaded.Thx.