CATTerrorisme sudah menjadi musuh bersama semua negara di dunia ini, semenjak terjadinya tragedi ditabraknya menara kembar gedung WTC di New York, Amerika Serikat pada 11 September 2001.  Dan satu kebetulan pada saat itu saya berada di gedung Annenburg Bld, lantai 15 dari The Mount Sinai Hospital dikota New York, tempat saya menjalani fellowship selama dua tahun. Dari jendela kamar kerja saya, yang berdekatan dengan Central Park di Manhattan, tampak jelas ambruknya tower II dan lanjut ke tower I, menara kembar WTC itu. Padahal saya belum lama pernah makan siang di restoran roof top ‘window of the world’ tower itu, dua bulan sebelumnya.

Orang Amerika sebelum kejadian itu belum pernah mengalami ‘disaster’ seperti kejadian nine one one itu. Suatu pukulan ‘telak’, langsung ke jantung Amerika dengan rubuhnya twin tower WTC di New York dan gedung Pentagon, departemen pertahanan Amrik di Washington DC. Mereka terhentak dari kehidupan tenang selama ini dinegeri adikuasa tersebut. Mereka baru sadar, bahwa musuh orang-orang Osama bin Laden sudah menyusup kedalam tubuh negara tanpa diketahui sebelumnya.

Di Indonesiapun semenjak 2002 banyak terjadi tragedi bom bunuh diri. Para terroris biasanya merekrut orang atau anak muda yang ‘mudah’ dimasuki ajaran atau aliran keras yang sesat itu. Pikiran mereka di’brain washed’, kemudian diisi dengan ajaran sesat dan keras dengan dalih dan kedok agama serta menggunakan kata ‘jihad’ yang kelihatannya ampuh. Serta dijanjikan surga bagi mereka yang mati syahid nantinya..

Setiap ada pertanyaan dilayar TV terhadap tetangga pelakubom bunuh diri atau pengikut terroris, selalu saja kita mendapat jawaban bahwa yang bersangakutan orangnya baik, pendiam, sopan,  rajin shalat, dan seterusnya. Semua kata yang terlontar adalah kata-kata yang berkonotasi positif, baik. Oleh karena itu tentu saja bagi para tetangga merasa ‘tidak perlu’ mencurigai gerak-gerik orang baik semacam itu. Disinilah kita ‘kecolongan’, ternyata mereka simpatisan atau anggota terroris yang sangat dicari dan diburu. Seperti yang terjadi di perumahan Nusa Phala di Jatiasih, Bekasi…

Orang pendiam, suka menyendiri  dan tidak ‘neko-neko’ mana mungkin  bakal bisa berbuat nekat dan brutal dengan menghilangkan nyawa orang-orang tak bersalah. Telah terjadi salah penilaian plus kita sekarang sudah tidak punya waktu lagi buat orang lain, terlalu dan selalu sibuk dengan urusan kita masing-masing.

Mana ada waktu untuk memata-matai tetangga atau berkontribusi melawan terrorisme dengan melaporkan hal-hal mencurigakan kepada aparat keamanan. Rasanya 24 jam sehari belum cukup untuk mengejar kesejahteraan keluarga kita masing-masing. Boro-boro ada waktu untuk mikirin orang lain dan negara. Kita semua telah ‘cuek bebek’ terhadap apapun, kecuali urusan diri sendiri dan keluarga. Egoisme sangat menonjol didalam masyarakat modern pada saat ini.

Popularity: unranked

Posted Sunday, August 9th, 2009 at 11:56 pm
Filed Under Category: Bahasa, General
You can leave a response, or trackback from your own site.

4 Responses to “Seorang introvert dan baik dimata tetangga, gampang dijadikan martir bom bunuh diri. Benarkah jasad itu milik Noordin M. Top?”

  1. 4
    Dr. Sukma Says:

    hai Igo,

    Saya semalam sudah melihat film dokumenter via link yang anda tuliskan. Memang,akhirnya saya bingung sendiri.

    Dan jauh sebelum ini kira2 2 minggu lalu saya pernah lihat berita di salah satu channel TV yang menyatakan hal serupa. So, I really have got confused..

  2. 3
    igo Says:

    saya setuju..tapi untuk kasus WTC ..pelakunya masih diragukan sepertinya bukan Al Qaeda…
    coba ibu check film documenter tentang investigasi link dibawah ini…
    http://video.google.com/videoplay?docid=6549357998725958567#

    judulnya losee change final cut..investigasi dilakukan oleh orang amerika sendiri…dan hasilnya mencengangkan ternyata hanya sebuah konspirasi..

  3. 2
    Dr. Sukma Says:

    Halo Inung,

    Seorang yang introvert,biasanya menarik diri dari pergaulan umum. Kasarnya tidak suka bergaul, hidup dalam kesendirian dan sulit berbagi perasaan atau curhat kepada orang lain. Semua permasalahan diolah dan dianalisa sendiri serta dicarikan solusinya sendiri juga.

    Sekali dia percaya pada orang lain seperti seorang uztad misalnya, maka dia akan menjadi orang yang sangat patuh dan mudah ditunggangi. Pada saat itulah terroris menyelipkan kata-kata dan kalimat yang seolah perintah bagi diri sang introvert untuk dilaksanakan.

    Cuci otak disini dimaksudkan menghilangkan identitas diri,melupakan hal-hal penting dalam hidupnya,seperti : ayah-ibu,saudara dan lain-lain.Fokus hanya kepada surga yang dijanjikan setelah mati syahid nanti.

  4. 1
    inung Says:

    Saya sepakat ibu,
    saya ingin bertanya, dari kacamata kesehatan jiwa, brainwash itu selain masalah identitas apa ada yg lain..,
    Mereka kok pilih meda perang di -seolah-TK. Kan ngga ‘Pandak’ istilah jawanya ..

Leave a Reply

  • About

    Dr. Sukma Merati, DSPADr. Sukma Merati is founder and owner of Riau Pathology Center in Pekanbaru, Riau. Dr. Merati has had various international experience and training, including as a fellow doctor at The Mount Sinai Hospital in New York City, NY, USA (2000-2002). More >

  • Most Popular Posts

  • Calendar

    March 2015
    M T W T F S S
    « Dec    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  

    Archives By Month

    Backend

    Subscribe