En annen tablett for å bekjempe impotens, for som det er etterspørsel, er Levitra Kjøp Levitra With Dapoxetine Uten Resept Stoffet er med høy effektivitet, noe som er bekreftet i flere kliniske studier kjøpe Generisk Viagra Den aktive ingrediensen i Levitra vardenafil fungerer.

PEACOCKSemua kata yang saya tulis pada judul tulisan ini, sepertinya menjadi barang langka, hampir-hampir mustahil dapat ditemukan dalam  kehidupan kita sehari-hari sebagai masyarakat modern pada saat ini. Padahal dari ajaran agama manapun, seringkali disebut dalam acara religi maupun kuliah subuh, dan lain-lain bahwa senyuman adalah pahala. Masyarakat pada saat ini sudah tidak peduli lagi sama orang lain, selain dirinya sendiri. Sudah sangat ‘selfish’ atau egois, hanya mementingkan dirinya sendiri saja. Tidak ada tegur-sapa, semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.

Saya sendiri merasa heran, kemana sifat asli bangsa kita yang sejak dahulu terkenal ramah, suka tersenyum, suka menolong dan bersimpati kepada orang atau tetangga yang sedang ditimpa kemalangan. Adakah bahan kimia semacam narkoba yang telah merubah  perilaku dan sopan-santun masyarakat saat ini?

Saya juga kurang setuju dengan tayangan sinetron di TV, yang senantiasa mengumbar sifat jahat, tamak atau rakus, sombong, dengki, irihati, pelit, culas dan sifat-sifat licik dan busuk lainnya. Dalam tayangan bukan saja untuk dewasa, pada sinetron anak-anakpun sering kita saksikan bagaimana seorang anak di’kerjain’ oleh teman-temannya dengan prilaku tak terpuji seperti menginjak-injak sepatu baru yang dengan susah payah dibelikan oleh orang tua si anak. Bagaimana teman-temannya yang ngerjain dia, lantas tertawa terbahak-bahak, kelihatan sangat gembira melihat penderitaan anak yang kesakitan dan sepatu barunya diinjak-injak kawannya tersebut. Apa yang harus dijawab si anak, bila orangtuanya menanyakan ‘kenapa sepatu barumu sudah rusak dan kotor?’ Padahal baru kemarin sore dibeli di mall?

Hal-hal yang tidak sepatutnya dan yang jelas-jelas tidak bermoral itu ditayangkan berulang-ulang di berbagai sinetron yang ditonton sebagian besar masyarakat mulai dari anak sampai lansia,  mulai dari si miskin sampai si kaya. Termasuk juga dari yang tidak sekolahan sampai kepada para akademisi di negeri kita Indonesia tercinta. Dan percaya atau tidak, media televisi adalah sarana paling ampuh untuk informasi, edukasi, komunikasi antar anggota masyaraka dan bahkan sebagai media paling ampuh bagi kampanye Legislatif  dan Pilpres yang sedang hangat-hangatnya pada waktu ini.

Bila anak terbiasa melihat prilaku yang tidak terpuji, lambat tetapi pasti didalam benak anak-anak kita akan tersimpan rekaman tayangan yang pernah dilihatnya. Mereka anggap itu hal wajar, biasa dan bisa ditiru kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun. Tokh adegan itu telah biasa mereka lihat dilayar TV, jadi bukan hal luar biasa dan bukan diharamkan untuk ditiru..  Maka berjatuhanlah korban-korban ‘smack down’ yang  ditiru dari  acara TV yang saat ini sudah dilarang.

Bagi saya pribadi, bila nonton bioskop pantang nonton film horror, karena secara mental dan fisik, saya menjadi tidak sehat : jantung berdenyut lebih kencang, tekanan darah meningkat tajam, keringat membanjir, pikiran jadi cemas dan ketakutan dan segala sesuatu yang berdampak negatif bagi kesehatan. Semboyan saya : saya nonton untuk mencari hiburan kebahagiaan dan bukan cari penyakit.. Wong kita bayar kok, maunya yang menghibur, tontonan bikin hati senang bukan sebaliknya..

Dari sudut medis, seyogyanya kita memelihara kesehatan mental kita dengan selalu berpikir positif. Artinya, jangan berburuk sangka kepada siapapun, selalu ada ‘excuse’ bagi hal-hal yang tidak disengaja yang dilakukan orang lain. Cepatlah minta maaf, bila kita bersalah begitu kita sadari telah berbuat salah. Dan dengan cepat bisa memaafkan kesalahan orang lain, bila orang itu minta maaf ataupun tidak minta sekalipun.

Percaya atau tidak sampai saat ini, bila tayangan berita di TV mengenai huru-hara, demonstrasi, unjuk rasa, tawuran antar kampung atau antar sekolah, dst semua yang mengakibatkan adrenalin saya terpacu, menimbulkan perasaan cemas, ketakutan, dst. maka segera saya pindah channel. Saya pilih saluran TV yang mempresentasikan lagu-lagu hits Indonesia saat ini, dunia binatang/fauna atau hutan/flora dan pemandangan indah di seluruh bola dunia ini atau cerita James Bond dengan gadisnya yang aduhai menarik. Bagi saya tayangan seperti ini jauh lebih menyehatkan mental dan fisik saya, sangat menenangkan pikiran dan ngentertaining atau menghibur. Ini dia yang saya cari…

Sincere, generousity, empati dan pemaaf adalah makanan yang paling menyehatkan mental dan berimbas ke kondisi fisik kita. Percayalah, orang dengan sifat-sifat demikian akan panjang umur, sehat wal’afiat lahir dan bathin serta cantik luar dan dalam. Berjuta manfaat kebaikan sifat akan kita peroleh menjadi kesehatan dan kecantikan fisik yang uncountable…

Popularity: unranked

Posted Friday, June 5th, 2009 at 9:46 pm
Filed Under Category: Bahasa, Life
You can leave a response, or trackback from your own site.

6 Responses to “Senyuman, Tulus hati, Ikhlas dan Minta maaf serta Memaaafkan menjadi barang yang teramat langka pada saat ini”

  1. 6
    Dr. Sukma Says:

    Hai Viola,

    Thanks commentnya. Your smile too, will heal the world especially its community..

  2. 5
    Viola Says:

    Dokter Sukma,

    Tulisan dokter benar sekali dan membuat sejuk. Betul sekali, saya pun menghindari tontonan berita yang memberikan berita2 kekerasan, kriminalitas. Melihat sinetron pun memang membuat hati tak nyaman, karena selalu memperlihatkan tokoh2 yang culas dan licik.

    Terus berkarya, dok! Hope smiles will heal the world.. :)

  3. 4
    Dr. Sukma Says:

    Halo Kus,

    Thanks for ur comment.
    Saya sudah memaafkan apapun yang telah membuat komunikasi kita kurang selaras. Sebaliknya saya harapkan diberi maaf oleh Kus sendiri terhadap semua kesalahan saya dan miss-communication selama ini. Peace and May God Bless Us…

  4. 3
    Kus Says:

    Denny, congratulation !!!
    Tulisan ini benar adanya. Mari kita bantu bangsa kita untuk kembali ke cara hidup seperti itu : santai, pasrah dan tersenyum ………….
    Memang berat, tetapi mari kita mulai dari lingkungan atau kelompok kita berada.

    Salam kasih,
    Kus.

  5. 2
    Dr. Sukma Says:

    Hai Titah Rahayu,

    Subhana Allah. Saya sangat percaya apa yang anda tulis. Dalam keadaan desperate yang begitu dalam, TIADA lagi tempat kita mengadu dan memohon kecuali kepada Yang Diatas, Allah SWT.

    Karena ketulus-hatian tante anda memaafkan semua yang pernah menyakitkan hatinya. Kebesaran hati untuk melepaskan semua sakit hati dalam kondisi fisik yang nyaris sirna. Malahan mendo’akan yang terbaik bagi mereka yang telah menyakitkan hati tante anda adalah perbuatan yang SANGAT MULIA. Disitulah Allah SWT menunjukkan KEBESARANNYA.

    Terjadilah apa yang secara logika tidak mungkin terjadi. Maka tante anda disembuhkan pulih 100%, suatu MUNAJAT, keajaiban karena kehendakNYA..

  6. 1
    Titah Rahayu Says:

    Dokter, ada pengalaman pribadi tante saya penderita kanker stadium 4 dan grade 4, yang dokter maupun sinshe sudah “angkat tangan”. Saat itu tak ada lagi yang bisa dilakukannya kecuali “bersiap-siap untuk menghadap Tuhan”. Harapannya cuma satu, diijinkan menghadap Tuhan dalam keadaan bersih, suci, tanpa membawa dendam dan sakit hati kepada siapa pun. Maka dalam ketidakberdayaannya mulailah tante saya memaafkan semua orang yang pernah menyakitinya. Semuanya. Dan mengganti rasa sakit hati itu dengan doa yang baik-baik bagi orang yang pernah menyakitinya.

    Dokter tahu? Tanpa mengkonsumsi obat apa pun, tanpa pernah lagi berobat ke dokter, sinshe, maupun pengobat lain mana pun, makin lama tante saya ternyata makin sehat. Selang beberapa tahun kemudian ketika memberanikan diri periksa lagi, ternyata kankernya telah hilang tanpa bekas, tanpa jejak sedikit pun! Subhanallah. Dan sekarang telah lewat 12 tahun sejak saat tante saya “bersiap-siap” itu. Kondisinya sehat wal afiat…

Leave a Reply

  • About

    Dr. Sukma Merati, DSPADr. Sukma Merati is founder and owner of Riau Pathology Center in Pekanbaru, Riau. Dr. Merati has had various international experience and training, including as a fellow doctor at The Mount Sinai Hospital in New York City, NY, USA (2000-2002). More >

  • Most Popular Posts

  • Calendar

    March 2015
    M T W T F S S
    « Dec    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  

    Archives By Month

    Backend

    Subscribe